Jeritan dari Pedalaman Kayan Selatan: Harga Kakao Tak Sebanding Keringat, Petani Rugi Bandar!
Ditulis Oleh Cera Oktaviana
Awan mendung seolah menggelayuti
perkebunan kakao di wilayah Kayan Selatan, Kabupaten Malinau. Komoditas yang
dulunya menjadi tumpuan ekonomi warga, kini justru membawa getir luar biasa
bagi para petani setempat. Bagaimana tidak, harga jual kakao di tingkat petani
merosot tajam hingga menyentuh angka Rp20.000 per kilogram, sebuah kejatuhan
yang sangat drastis dan menyakitkan jika dibandingkan dengan masa keemasan
tahun-tahun sebelumnya yang pernah mencapai angka Rp90.000 hingga Rp100.000 per
kilogram.
Penyebab
utama anjloknya harga ini berakar pada masalah klasik infrastruktur, di mana
satu-satunya akses distribusi menuju Samarinda melalui jalur darat berada dalam
kondisi rusak parah. Buruknya medan jalan membuat para pembeli enggan masuk ke
wilayah Kayan Selatan, sehingga persaingan harga menjadi mati dan petani tidak
memiliki posisi tawar. Kondisi pasar di Samarinda yang tidak stabil semakin
memperkeruh suasana, memaksa petani menerima harga rendah karena tingginya
risiko dan biaya angkut yang harus ditanggung oleh pengepul yang tersisa.
Dampak
dari situasi ini mulai memicu keputusasaan masal di kalangan petani. Banyak
dari mereka yang kini kehilangan semangat untuk merawat, apalagi memanen hasil
kebun mereka. Para petani merasa "rugi bandar" karena pendapatan yang
diterima jauh di bawah biaya operasional dan tenaga yang telah dikeluarkan.
"Untuk apa kami capek-capek memanen jika harganya tidak sebanding dengan
keringat? Lebih baik dibiarkan membusuk di pohon daripada harus menanggung rugi
lebih dalam," ungkap salah satu petani dengan nada kecewa.
Jika
kondisi keterisolasian dan ketidakpastian harga ini terus dibiarkan tanpa
intervensi nyata dari pemerintah, masa depan perkebunan kakao di Kayan Selatan
terancam kolaps. Petani kini hanya bisa berharap adanya perbaikan akses jalan
darat sebagai urat nadi ekonomi serta adanya regulasi yang mampu menstabilkan
harga di tingkat lokal. Tanpa solusi cepat, "emas cokelat" yang dulu
menjadi kebanggaan Malinau hanya akan tinggal kenangan di tengah jalanan yang
hancur dan semangat petani yang kian padam.
Baca juga:
Keringat Jadi Berkat: Cerita OMK St. Lukas Apau Kayan Panen Padi di Atas Gunung Demi Paskah 2026
Keringat Jadi Berkat: Cerita OMK St. Lukas Apau Kayan Panen Padi di Atas Gunung Demi Paskah 2026