Jeritan dari Pedalaman Kayan Selatan: Harga Kakao Tak Sebanding Keringat, Petani Rugi Bandar!

1777441736434.jpeg

Ditulis Oleh Cera Oktaviana

Awan mendung seolah menggelayuti perkebunan kakao di wilayah Kayan Selatan, Kabupaten Malinau. Komoditas yang dulunya menjadi tumpuan ekonomi warga, kini justru membawa getir luar biasa bagi para petani setempat. Bagaimana tidak, harga jual kakao di tingkat petani merosot tajam hingga menyentuh angka Rp20.000 per kilogram, sebuah kejatuhan yang sangat drastis dan menyakitkan jika dibandingkan dengan masa keemasan tahun-tahun sebelumnya yang pernah mencapai angka Rp90.000 hingga Rp100.000 per kilogram.

​            Penyebab utama anjloknya harga ini berakar pada masalah klasik infrastruktur, di mana satu-satunya akses distribusi menuju Samarinda melalui jalur darat berada dalam kondisi rusak parah. Buruknya medan jalan membuat para pembeli enggan masuk ke wilayah Kayan Selatan, sehingga persaingan harga menjadi mati dan petani tidak memiliki posisi tawar. Kondisi pasar di Samarinda yang tidak stabil semakin memperkeruh suasana, memaksa petani menerima harga rendah karena tingginya risiko dan biaya angkut yang harus ditanggung oleh pengepul yang tersisa.

​            Dampak dari situasi ini mulai memicu keputusasaan masal di kalangan petani. Banyak dari mereka yang kini kehilangan semangat untuk merawat, apalagi memanen hasil kebun mereka. Para petani merasa "rugi bandar" karena pendapatan yang diterima jauh di bawah biaya operasional dan tenaga yang telah dikeluarkan. "Untuk apa kami capek-capek memanen jika harganya tidak sebanding dengan keringat? Lebih baik dibiarkan membusuk di pohon daripada harus menanggung rugi lebih dalam," ungkap salah satu petani dengan nada kecewa.

​            Jika kondisi keterisolasian dan ketidakpastian harga ini terus dibiarkan tanpa intervensi nyata dari pemerintah, masa depan perkebunan kakao di Kayan Selatan terancam kolaps. Petani kini hanya bisa berharap adanya perbaikan akses jalan darat sebagai urat nadi ekonomi serta adanya regulasi yang mampu menstabilkan harga di tingkat lokal. Tanpa solusi cepat, "emas cokelat" yang dulu menjadi kebanggaan Malinau hanya akan tinggal kenangan di tengah jalanan yang hancur dan semangat petani yang kian padam.

Bagikan post ini: