Desa “Sultan Listrik” Ada PLTA, PLTS,PLN Justru Dilanda Kegelapan
Kegelapan kembali menyelimuti Desa
Metulang dan Long Ampung pada Senin, 25 Agustus 2026 malam. Sejak sore langit mendung,
lalu hujan deras dan guntur membuat aliran listrik padam. Yang membuat warga
geram, kedua desa ini sebenarnya punya 3 sumber listrik: PLTA, PLTS, dan PLN.
Tapi malam ini, ketiganya mati bersamaan.
PLTA sudah kurang lebih sebulan tidak
berfungsi maksimal. Musim kemarau sejak awal Agustus membuat air sungai surut,
sehingga pembangkit tenaga air ini tak mampu menyalurkan daya. Warga yang hanya
mengandalkan PLTA terpaksa hidup gelap sejak lama. Sementara PLTS juga
bermasalah. Kebijakan menambah daya bebas tahun lalu berujung mesin overload.
Setelah watt disamaratakan pun listrik tetap mati-nyala. Apalagi saat mendung
dan hujan, pengisian baterai surya jadi semakin lambat karena minim sinar
matahari.
PLN menjadi harapan terakhir dengan
jam nyala 18.00–07.00. Namun kenyataan, PLN di desa ini juga kerap ikut padam
bersamaan dengan PLTA dan PLTS. “Rasanya seperti janjian mati bareng,” kata
salah satu warga. Di saat semua aktivitas butuh listrik, mulai dari lampu
rumah, cas HP, koneksi Internet sampai usaha UMKM, warga justru dipaksa kembali
memakai lilin. Hanya yang memiliki genset pribadi yang masih bisa merasakan
terang. Hal ini menunjukan bahwa fasilitas ini masih menjadi privilege berdasarkan kemampuan ekonomi.
Sering dianggap biasa oleh orang kota
atau bahkan yang sudah memilikinya, jutaan warga di daerah pedalaman seperti
disini belum menikmati sepenuhkan. Warga berharap keluhan ini segera didengar.
Sudah terlalu sering mengalami padam serentak. “Zaman sekarang listrik itu
wajib. Kami tidak minta mewah, hanya minta terang dan stabil,” ujar warga.
Dengan harapan mendesak pemerintah dan petugas terkait segera mengevaluasi dan
memperbaiki ketiga pembangkit agar tidak
terus hidup dalam gelap.
Baca juga:
BERIWISATA BERSAMA OMK (Orang Muda Katolik)
BERIWISATA BERSAMA OMK (Orang Muda Katolik)