Desa “Sultan Listrik” Ada PLTA, PLTS,PLN Justru Dilanda Kegelapan

1787802639485.jpeg
Gambar: suasana gelap gulita desa Metulang ( Cera Oktaviana ) Sumber: https://metulang.desa.id/

Kegelapan kembali menyelimuti Desa Metulang dan Long Ampung pada Senin, 25 Agustus 2026 malam. Sejak sore langit mendung, lalu hujan deras dan guntur membuat aliran listrik padam. Yang membuat warga geram, kedua desa ini sebenarnya punya 3 sumber listrik: PLTA, PLTS, dan PLN. Tapi malam ini, ketiganya mati bersamaan.

PLTA sudah kurang lebih sebulan tidak berfungsi maksimal. Musim kemarau sejak awal Agustus membuat air sungai surut, sehingga pembangkit tenaga air ini tak mampu menyalurkan daya. Warga yang hanya mengandalkan PLTA terpaksa hidup gelap sejak lama. Sementara PLTS juga bermasalah. Kebijakan menambah daya bebas tahun lalu berujung mesin overload. Setelah watt disamaratakan pun listrik tetap mati-nyala. Apalagi saat mendung dan hujan, pengisian baterai surya jadi semakin lambat karena minim sinar matahari.

PLN menjadi harapan terakhir dengan jam nyala 18.00–07.00. Namun kenyataan, PLN di desa ini juga kerap ikut padam bersamaan dengan PLTA dan PLTS. “Rasanya seperti janjian mati bareng,” kata salah satu warga. Di saat semua aktivitas butuh listrik, mulai dari lampu rumah, cas HP, koneksi Internet sampai usaha UMKM, warga justru dipaksa kembali memakai lilin. Hanya yang memiliki genset pribadi yang masih bisa merasakan terang. Hal ini menunjukan bahwa fasilitas ini masih menjadi privilege berdasarkan kemampuan ekonomi.

Sering dianggap biasa oleh orang kota atau bahkan yang sudah memilikinya, jutaan warga di daerah pedalaman seperti disini belum menikmati sepenuhkan. Warga berharap keluhan ini segera didengar. Sudah terlalu sering mengalami padam serentak. “Zaman sekarang listrik itu wajib. Kami tidak minta mewah, hanya minta terang dan stabil,” ujar warga. Dengan harapan mendesak pemerintah dan petugas terkait segera mengevaluasi dan memperbaiki ketiga pembangkit agar  tidak terus hidup dalam gelap.

Bagikan post ini: