Mengenal "Lung Adek": Obat Tradisional Dayak Kenyah Penjaga Kesehatan dari Dalam Hutan

1786085199852.jpeg
Gambar: Tanaman Lung adek ( Cera oktaviana ) Sumber: https://metulang.desa.id/

Di tengah gempuran obat modern, masyarakat Dayak Kenyah di pedalaman Kalimantan masih teguh menjaga warisan leluhur Lung Adek. Tumbuhan ini hanya tumbuh di hutan belantara yang lebat dan jauh dari pemukiman. Bagi para penelusur hutan, nama Lung Adek tentu sudah akrab di telinga. Ramuan ini dikenal sebagai salah satu bahan andalan untuk meredakan keluhan ringan. Biasanya, Lung Adek dibawa pulang oleh warga yang baru kembali dari aktivitas menambang emas ataupun gaharu di luar kampung, sebagai bekal obat keluarga dari hasil rimba.

Wujud Lung Adek cukup khas. Batangnya kecil dengan helai daun yang mengembang mirip pandan. Pada bagian tengah, daunnya merekah membentuk seperti kipas. Aromanya tajam, menyerupai kulit jahe kering dengan rasa hangat dan sedikit pedas di lidah. Setelah melalui proses pengeringan alami, batangnya mengeras menyerupai akar dengan serat yang tampak jelas. Karena dikeringkan dengan cara tradisional, Lung Adek menjadi awet dan dapat disimpan bertahun-tahun tanpa mengurangi khasiatnya.

            Proses meramunya terbilang sangat sederhana dan diwariskan turun-temurun. Satu batang Lung Adek ditumbuk lalu dicelupkan ke air panas sekitar 50ml - 100ml dan prosesnya diulangi beberapa kali sampai airnya menjadi seperti air kelapa. Bila menginginkan rasa yang lebih menghangatkan, bisa ditambah 1-2 batang. Namun untuk sekali teguk, satu batang sudah mencukupi. Kepraktisan inilah yang membuat Lung Adek tetap menjadi pilihan utama, khususnya ketika berada di hutan jauh dari layanan kesehatan.

Bagi Dayak Kenyah, Lung Adek lebih dari sekadar penawar. Ramuan ini dipercaya berkhasiat meredakan sakit perut hebat, perut kembung, dan gejala masuk angin. Lebih jauh, Lung Adek adalah cerminan kearifan dalam menjaga harmoni dengan alam. Ilmu tentang cara mencari, mengolah, hingga menyeduhnya dituturkan langsung oleh para tetua kepada generasi muda. Di zaman yang terus berubah, Lung Adek tetap berdiri sebagai bukti nyata bagaimana Dayak Kenyah memanfaatkan hutan secara arif dan lestari.

 

 

Bagikan post ini: